Bendungan Logung Masuki Pengecekan Akhir

Bangunan Embung Logung di Kabupaten Kudus [AyoKudus]

Pengecekan akhir pembangunan Bendungan Logung di perbatasan Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo dan Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, direncanakan digelar Senin (26/11). Selanjutnya, mengacu jadwal yang telah direncanakan penggenangan atau “impounding” dilanjutkan peresmian infrastruktur pengairan yang dirintis pembangunannya sejak 1970.

Pembangunan Bendungan Logung merupakan salah satu yang terlama perintisannya. Bendungan Logung hanya “kalah abu” dibandingkan seniornya, Jatigede yang membutuhkan waktu selama 50 tahun sebelum akhirnya menjadi sebuah waduk.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Bendungan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana, Zulfan Arief Mustafa, menyatakan pengecekan akhir jelang penggenangan akan dilakukan awal pekan ini, direncanakan Senin (26/11). Segala sesuatunya dipastikan sudah siap sebelum aliran Sungai Logung dan Gajah memasuki area timbunan.

“Kami akan melakukan pengecekan akhir,”’ katanya.

Sebelum penggenangan, serangkaian proses telah dilewati. Secara keseluruhan progres konstruksi pembangunan Bendungan Logung telah selesai dan pada Agustus 2018 lalu telah dilaksanakan inspeksi lapangan oleh tim Komisi Keamanan Bendungan dan Balai Bendungan.

“Segala sesuatunya harus melalui prosedur yang berlaku,”’ ujarnya.

Saat musim hujan, Bendungan Logung difungsikan sebagai waduk tadah hujan dan pengendali debit banjir. Sedangkan pada musim kemarau, bendungan dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan air di wilayah Kudus dan sekitarnya.

Bendungan Logung selain bermanfaat untuk irigasi, juga direncanakan untuk memenuhi kebutuhan air baku masyarakat dan industri sebesar 200 liter per detik bagi 130.909 jiwa yang tinggal di Kota Kudus dan sekitarnya, mengurangi banjir hingga 30 persen, dan pembangkit listrik mikro hidro sebesar 0.5 Megawatt. Bendungan dapat dioptimalkan sebagai  destinasi wisata baru.

Bupati Kudus HM Tamzil menegaskan akan mengoptimalkan keberadaan bendungan. Selain penambahan infrastruktur pendukung, dilakukan penguatan kapasitas sumber daya manusia untuk pemanfaatan ke depan. “Salah satunya untuk pemanfaatan kepariwisataan,” jelasnya. (ton)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *