Minggu, Februari 23

Bupati Kudus Gagas Lembaga Adat

Bupati Kudus HM Tamzil membagikan nasi kepel pada kirab ampyang maulid di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus (redaksi/AyoKudus)

KUDUS – Ratusan warga berebut nasi kepel pada puncak kirab ampyang maulid di depan masjid wali Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Selasa (20/10) sore. Nasi kepel merupakan nasi yang dibungkus daun jati dengan lauk bumbu bothok.

Tradisi ampyang maulid digelar warga Desa Loram Kulon pada peringatan Maulid (hari lahir) Nabi Muhammad SAW. Bupati Kudus HM Tamzil yang hadir pada karnaval kirab mengapresiasi masih dilestarikannya tradisi tersebut.

Menurut Tamzil, desa-desa di Kabupaten Kudus yang memiliki potensi budaya perlu membentuk lembaga adat dan budaya. Lembaga ini berfungsi untuk memperkuat warisan adat atau budaya turun temurun yang masih dilestarikan oleh warga desa.

Lembaga adat dan budaya penting untuk memperdalam atau mempertajam bentuk-bentuk adat atau budaya yang ada di desa. Lembaga adat bisa melibatkan tokoh masyarakat, organisasi keagamaan, pemerintah, dan swasta atau sponsor,” katanya.

Melalui lembaga adat dan budaya, potensi kearifan lokal yang banyak tersebar di desa bisa lebih diangkat dan “dijual” melalui konsep pariwisata. “Akan kami susun payung hukum pembentukan lembaga adat dan budaya ini, sehingga bisa menjadi rujukan masyarakat desa,” katanya.

Tokoh masyarakat Desa Loram Kulon Anis Aminuddin mengatakan, karnaval atau kirab ampyang yang rutin digelar setiap tahun merupakan puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi itu sudah ada sejak Sultan Hadlirin menyiarkan Islam di kawasan Loram Kulon.

Disebutkan, nasi kepel merupakan bentuk sedekah warga masyarakat. Setiap ada hajataan, warga membuat nasi kepel dan dibagikan kepada tetangga dan sanak saudaranya. Warisan lainnya yakni tradisi penganten mubeng.

Tradisi ini tetap lestari. Setiap pasangan pengantin yang baru melaksanakan pernikahan berjalan mengitari gapura yang ada di depan masjid wali Loram Kulon. “Warisan kearifan lokal yang ketiga yakni kirab ampyang maulid yang kami gelar hari ini (kemarin – Red),” katanya.

Anis menambahkan, kearifan lokal yang masih terus dipertahankan itu membawa efek domino pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ditetapkannya Loram Kulon sebagai desa wisata karena tradisinya itu, membuat kreatifitas warga muncul. Selain kuliner, kegiatan ekonomi warga juga muncul seperti di sektor kuliner hingga kerajinan. (RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *