Senin, September 28

Stop Polemik Yang Meresahkan

DITENGAH keanekaragaman Budaya, Ras dan Suku  merupakan aset terbesar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Mari ciptakan kehidupan yang harmonis dan kondusif dalam relung kehidupan saat ini.

Islam mengutamakan keharmonisan dan kerukunan beragama tidak hanya pada tataran bermasyarakat akan tetapi dengan agama lain juga harus diperhatikan demi kenyamanan beribadah dengan keyakinan masing-masing.

Pada perjalanan sejarah bangsa, Pancasila telah teruji sebagai alternatif yang paling tepat sepanjang zaman untuk mempersatukan masyarakat Indonesia  yang sangat majemuk dibawah suatu tatanan yang demokratis. Akan tetapi sungguh disayangkan  bila wacana Pancasila seolah lenyap tertelan zaman.

Fenomena ini seakan sebagai hal yang biasa padahal hal ini mengganggu stabilitas kerukunan beragama dan ini sangat bertentangan dengan falsafah Pancasila sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa.

Polemik ini akan selalu mengusik kenyamanan dalam beragama, seperti contoh Istilah penistaan agama. Walaupun sudah diproses secara hukum, pro dan kontra terhadap penistaan agama masih saja terus berjalan.

Pada akhir tahun 2016 seorang abdi negara juga melakukan penistaan agama melalui surah Al-Maidah ayat 51 saat berpidato di kepulauan seribu yang lalu. Beliau sudah diproses secara hukum atas tuduhan penistaan agama.

Seharusnya kita belajar dengan kasus tersebut dan seharusnya stop atas fenomena penistaan agama agar dalam kehidupan keberagamaan kita saling menghormati, saling menjaga kenyamanan beribadah, saling mengingatkan dan  jangan sampai hal ini terjadi lagi ditengah-tengah masyarakat kita.

Adanya penistaan agama seperti itu tentunya akan menyulut adanya pelemik diantara para pemeluk agama. Pada awal tahun 2018 an muncul lagi istilah penistaan agama yang justru menimpa tokoh nasioanal yang juga putri Proklamator RI saat membacakan puisi dalam acara 29 tahun Anne Avantie Berkarya Di Indonesia Fashion Week yang dianggap menistakan agama karena menyinggung cadar dan Adzan yang hal itu menjadi Ikon agama Islam.

Penistaan agama dapat diartikan meremehkan dan merendahkan suatu agama, sedangkan indikator bersifat subjektik yang belum ada kata kesepakatan dalam batasan yang pasti apakah seseorang atau bahkan kelompok memahaminya sesuai dengan perspektifnya masing-masing.

Islam secara tekstual menyakini bahwa adzan adalah panggilan kepada allah untuk saat beribadah dan adzan mengandung makna perintah menjalankan shalat. Islam juga tidak mengatur serta mewajibkan umat islam harus bercadar, akan tetapi islam mengatur bagaimana kita berpakaian yang sopan dan tidak meninggalkan etika berpakaian menurut syariah islam.

Islam secara tekstual mengatur bahwa kewajiban seorang muslimah memakai jilbab atau menutup aurot sebagaimana jenis pakaian ini termasuk cadar tidak diatur atau diwajibkan dalam islam.

Terlepas dari pro dan kontra, cadar atau adzan yang sempat disinggung dalam sebuah puisi yang sudah dibacakan tersebut sungguh ini akan menimbulkan pelemik yang akan meresahkan kehidupan keberagamaan. Dalam agama islam dimensi tradisi atau budaya seharusnya semua pihak juga harus saling menghormati, saling menjaga perbedaan satu dengan lainnya dan bukan sebaliknya.

Sebagai seorang yang beragama apalagi seorang tokoh seharusnya berhati-hati dalam bertindak, bersikap, bertutur kata agar bisa menjalankan ibadah dengan penuh kekhusukan tanpa ternodai dengan hal-hal yang tidak kita inginkan.

Sebagai masyarakat umum juga tidak boleh memaksakan kehendak dan saling menghujat apalagi memaki-maki terhadap pihak lain yang dianggap menistakan agama. Mari kita berintropeksi diri untuk saling menghargai perbedaan Budaya, Suku, Ras dan Golongan agar dapat tercemin suatu kondisi masyarakat kondusif, aman, tentram, gemah ripah loh jinawe, murah sandang murah pangan dan terhindar dari polemik yang berkepanjangan.

Solusi tidak seharusnya harus ditempuh dengan jalur hukum, akan tetapi mari kita sadar diri, berbenah diri mengedepankan cara dakwah islam yang baik bil Hikmah, Mauidzah hasanah serta Mujadalah yang baik saling mengingatkan dengan penuh kesabaran.

Penulis Nur Ahmad, Dosen Dakwah dan Komunikasi STAIN Kudus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *